Selasa, 04 Oktober 2011

KEBUDAYAAN INDIS

Materi Ke-1
Nama Kelompok :
1. Lailatul Faizah
2. Muthia Farida
3. Pangestika Rahadiyani
4. Putri Uswatul khasanah
5. Tuti Setyawati
6. Yessica Hera Pratiwi
Mata Kuliah : Psikologi Lintas Budaya

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Budaya telah menjadi perluasan topik ilmu psikologi di mana mekanisme berpikir dan bertindak pada suatu masyarakat kemudian dipelajari dan diperbandingkan terhadap masyarakat lainnya. Psikologi lintas budaya adalah cabang dari psikologi yang (terutama) menaruh perhatian pada pengujian berbagai kemungkinan batas-batas pengetahuan dengan mempelajari orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda.

1.2 Tujuan Pembuatan Makalah
1. Memenuhi tugas Psikologi Lintas Budaya
2. Mengetahui persamaan dan perbedaan antara kebudayaan indis dan kebudayaan lain


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tinjauan Pustaka
a) Pengertian Psikologi Lintas Budaya 
Budaya dalam kehidupan manusia adalah hal yang dekat dan melekat padanya. Budaya merupakan hasil karya manusia, lahir untuk manusia dalam mengatur dan mendukung kehidupannya. Tujuan menjadikan kehidupan ini menjadi lebih baik adalah keadaan akhir yang diinginkan tersebut. Kelly mendefinisikan budaya sebagai bagian yang terlibat dalam proses harapan-harapan yang dipelajari/dialami. Orang-orang yang memiliki kelompok budaya yang sama akan mengembangkan cara-cara tertentu dalam mengonstruk peristiwa-peristiwa, dan mereka pun mengembangkan jenis-jenis harapan yang sama mengenai jenis-jenis perilaku tertentu. 
Budaya telah menjadi perluasan topik ilmu psikologi di mana mekanisme berpikir dan bertindak pada suatu masyarakat kemudian dipelajari dan diperbandingkan terhadap masyarakat lainnya. Psikologi lintas budaya adalah cabang dari psikologi yang (terutama) menaruh perhatian pada pengujian berbagai kemungkinan batas-batas pengetahuan dengan mempelajari orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda.
b) Tujuan Mempelajari Psikologi Lintas Budaya
Tujuan dari kajian psikologi Lintas Budaya adalah mencari persamaan dan
perbedaan dalam fungsi-fungsi individu secara psikologis, dalaam berbagai budaya dan kelompok etnik.
c) Hubungan Psikologi Lintas Budaya dengan Ilmu lain
Psikologi lintas budaya sama seperti dengan Psikologi budaya mencoba mempelajari bagaimana faktor budaya dan etnis mempengaruhi perilaku manusia. Namun psikologi lintas budaya tidak hanya mempelajari faktor budaya dengan prilaku tetapi faktor antar budaya atau perbedaan budaya yang mempengaruhi prilaku manusia.
Psikologi Sosial mempelajari tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan masyarakat sekitarnya. Psikologi lintas budaya juga sama mempelajari individu dengan masyarakat selain itu juga mempelajari individu dengan atar masyarakat yang berbeda.
d) Etnosentrisme dalam Psikologi Lintas Budaya
Etnosentrisme secara formal didefinisikan sebagai pandangan bahwa kelompok atau budaya sendiri adalah pusat segalanya dan budaya lain akan selalu dibandingkan dan dinilai sesuai dengan standar budaya sendiri. Etnosentrisme membuat kebudayaan diri sebagai patokan dalam mengukur baik buruknya, atau tinggi rendahnya dan benar atau ganjilnya kebudayaan lain dalam proporsi kemiripannya dengan kebudayaan sendiri, adanya.
e) Persamaan dan perbedaan antara budaya dalam hal transmisi budaya melalui enculturasi dan Sosialisasi.
Berbagai peranan harus dipelajari oleh anak (individu anggota masyarakat) melalui proses sosialisasi; adapun mengenai kebudayaan perlu dipelajarinya melalui enkulturasi. Jika anak tidak mengalami sosialisasi dan/atau enkulturasi, maka ia tidak akan dapat berinteraksi sosial, ia tidak akan dapat melakukan tindakan sosial sesuai status dan peranannya serta kebudayaan masyarakatnya.
f) Persamaan dan perbedaan antar budaya Melalui Perkembangan Moral
Perkembangan sosial merupakan proses perkembangan kepribadian siswa selaku seorang anggota masyarakat dalam berhubungan dengan orang lain. Perkembangan ini berlangsung sejak masa bayi hingga akhir hayat. Perkembangan merupakan suatu proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat), yakni pembentukan pribadi dalam keluarga, bangsa dan budaya. Perkembangan sosial hampir dapat dipastikan merupakan perkembangan moral, sebab perilaku moral pada umumnya merupakan unsur fundamental dalam bertingkah laku sosial. Seorang siswa hanya akan berperilaku sosial tertentu secara memadahi apabila menguasai pemikiran norma perilaku moral yang diperlukan untuk menguasai pemikiran norma perilaku moral yang diperlukan.
Proses perkembangan sosial dan moral selalu berkaitan dengan proses belajar. Konsekuensinya, kualitas hasil perkembangan sosial sangat bergantung pada kualitas proses belajar (khususnya belajar sosial), baik dilingkungan sekolah, keluarga, maupun di lingkungan masyarakat. Hal ini bermakna bahwa proses belajar sangat menentukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berperilaku sosial yang selaras dengan norma moral, agama, moral tradisi, moral hukum, dan norma moral yang berlaku dalam masyarakat.


g) Persamaan dan perbedaan antar budaya Melalui Perkembangan Remaja
Saat ini pengaruh budaya barat tidak hanya sebatas cara berpakaian, pergaulan, tapi juga di bidang pendidikan dan gaya hidup. Subjek yang paling terpengaruh adalah remaja. Bahkan bagi sebagian remaja, gaya hidup barat merupakan suatu kewajiban dalam pergaulan. Tanpa disadari, para remaja telah memadukan kebudayaan dengan pergaulan dalam aspek kehidupan mereka. Pada dasarnya remaja memiliki semangat yang tinggi dalam aktivitas yang digemari. Mereka memiliki energi yang besar, yang dicurahkannya pada bidang tertentu, ide-ide kreatif terus bermunculan dari pikiran mereka. Selain itu, remaja juga memiliki rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Untuk menuntaskan rasa ingin tahunya, mereka cenderung menggunakan metode coba-coba. 
h) Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal konfromitas, kompliance, dan obedience
Conformity adalah proses dimana seseorang mengubah perilakunya untuk menyesuaikan dengan aturan kelompok. Compliance adalah konformitas yang dilakukan secara terbuka sehingga terlihat oleh umum, walaupun hatinya tidak setuju. Kepatuhan atau obedience merupakan salah satu bentuk ketundukan yang muncul ketika orang mengikuti suatu perintah langsung, biasanya dari seseorang dengan suatu posisi otoritas.
Untuk membandingkan bagaimana conformity, compliance, dan obedience secara lintas budaya, maka telaah itu harus memusatkan perhatian pada nilai konformitas dan kepatuhan itu sebagai konstruk sosial yang berakar pada budaya. Dalam budaya kolektif, konformitas dan kepatuhan tidak hanya dipandang “baik” tetapi sangat diperlukan untuk dapat berfungsi secara baik dalam kelompoknya, dan untuk dapat berhasil menjalin hubungan interpersonal bahkan untuk dapat menikmati status yang lebih tinggi dan mendapat penilaian atau kesan positif.
i) Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal nilai-nilai
Telaah lintas budaya mengenai nilai-nilai baik kemasyarakatan maupun perseorangan tergolong baru nilai merupakan gambaran yang dipegang oleh perseorangan atau secara kolektif oleh anggota kelompok, yang mana dapat diinginkan dan mempengaruhi baik pemaknaan dan tujuan tindakan diantara pilihan-pilihan yang ada.
Dalam Psikologi Lintas Budaya nilai dimasukkan sebagai salah satu aspek dari budaya atau masyarakat. Nilai muncul menjadi ciri khas yang cenderung menetap pada seseorang dan masyarakat dan karenanya penerimaan nilai berpengaruh pada sifat kerpibadian dan karakter budaya.
j) Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal Prilaku Gender
Gender merupakan kajian tentang tingkah laku dan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan. Gender berbeda dari seks atau jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang bersifat biologis. Perbedaan pola sosialisasi ini juga berkaitan dengan beberapa faktor budaya dan faktor ekologi. 
Gender merupakan hasil konstruksi yang berkembang selama masa anak-anak sebagaimana mereka disosialisasikan dalam lingkungan mereka. Adanya perbedaan reproduksi dan biologis mengarahkan pada pembagian kerja yang berbeda antara pria dan wanita dalam keluarga. Perbedaan-perbedaan ini pada gilirannya mengakibatkan perbedaan ciri-ciri sifat dan karakteristik psikologis yang berbeda antara pria dan wanita. Faktor-faktor yang terlibat dalam memahami budaya dan gender tidak statis dan unidimensional. Keseluruhan sistem itu dinamis dan saling berhubungan dan menjadi umpan balik atau memperkuat sistem itu sendiri. Sebagai akibatnya sistem ini bukan suatu unit yang linear dengan pengaruh yang berlangsung dalam satu arah, dan semua ini diperoleh dalam kehidupan kita sendiri.
Sebagai konsekuensinya, budaya yang berbeda akan memberikan hasil yang berbeda pula. Satu budaya mungkin mendukung kesamaan antara pria dan wanita, namun budaya lainnya tidak mendukung kesamaan tersebut. Dengan demikian budaya mendefinisikan atau memberikan batasan mengenai peran, kewajiban, dan tanggung jawab yang cocok bagi pria dan wanita.
k) Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal Sosial Bermasyarakat
Masyarakat didefinisikan oleh Ralph Linton sebagai "setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas". Sejalan dengan definsi dari Ralph Linton, Selo Sumardjan mendefinisikan masyarakat sebagai “orangorang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan” (Soerjono Soekanto, 1986). Mengacu kepada dua definisi tentang masyarakat seperti dikemukakan di atas, dapat di identifikasi empat unsur yang mesti terdapat di dalam masyarakat, yaitu:
1.Manusia (individu-individu) yang hidup bersama.
2.Mereka melakukan interaksi sosial dalam waktu yang cukup lama.
3.Mereka mempunyai kesadaran sebagai satu kesatuan.
4.Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.
l) Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal Sosial Cognitif
Kognitif diartikan sebagai kegiatan untuk memperoleh, mengorganisasikan dan menggunakan pengetahuan. Dalam psikologi, kognitif adalah referensi dari faktor-faktor yang mendasari sebuah prilaku. Kognitif juga merupakan salah satu hal yang berusaha menjelaskan keunikan manusia. Pola pikir dan perilaku manusia bertindak sebagi aspek fundamental dari setiap individu yang tak lepas dari konsep kemanusiaan yang lebih besar, yaitu budaya sebagai konstruksi sosial. Sedangkan kebudayaan (culture) dalam arti luas merupakan kreativitas manusia (cipta, rasa dan karsa) dalam rangka mempertahankan kelangsunganhidupnya. Manusia akan selalu melakukan kreativitas (dalam arti luas) untuk memenuhi kebutuhannya (biologis, sosiolois, psikologis) yang diseimbangkan dengan tantangan, ancaman, gangguan, hambatan (AGHT) dari lingkungan alam dan sosialnya.

m) Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal Individual dan Kolektivitas
1) Individual
Diri individual adalah diri yang fokus pada atribut internal yang sifatnya personal; kemampuan individual, inteligensi, sifat kepribadian dan pilihan-pilihan individual. Diri adalah terpisah dari orang lain dan lingkungan. Budaya dengan diri individual mendesain dan mengadakan seleksi sepanjang sejarahnya untuk mendorong kemandirian sertiap anggotanya. Mereka didorong untuk membangun konsep akan diri yang terpisah dari orang lain, termasuk dalam kerangka tujuan keberhasilan yang cenderung lebih mengarah pada tujuan diri individu. Dalam kerangka budaya ini, nilai akan kesuksesan dan perasaan akan harga diri megambil bentuk khas individualisme. Keberhasilan individu adalah berkat kerja keras dari individu tersebut.
2) Kolektif
Dalam konstruk diri kolektif ini, nilai keberhasilan dan harga diri adalah apabila individu tersebut mampu memenuhi kebutuhan komunitas dan menjadi bagian penting dalam hubungan dengan komunitas. Individu focus pada status keterikatan mereka (interdependent), dan penghargaan serta tanggung jawab sosialnya. Aspek terpenting dalam pengalaman kesadaran adalah saling terhubung antar personal. Dalam budaya diri kolektif ini, informasi mengenai diri yang terpenring adalah aspek-aspek diri dalam hubungan.

2.2 Kebudayaan Indis
2.2.1 Awal Kehadiran Orang Belanda

A. ETNOSENTRISME
“Pandangan bahwa kelompok atau budaya sendiri adalah pusat segalanya dan budaya lain Akan selalu dibandingkan dan dinilai sesuai dengan standar budaya sendiri”
Semua artefak kebudayaan berupa monografi, kesusasteraan, kisahperjalanan, lukisan, foto,sketsa,artefakan seni bangunan indis menunjukkan kemampuan segolongan masyarakat Indonesia dalam mengambi unsur – unsur budaya asing tanpa meninggalkan budaya tradisionalnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat suku jawa memiliki sikap open minded tolerance atau savoir vivre (lapang dada) dalam menanggapi kebudayaan asing yang hadir sepanjang sejarah Indonesia.

B. TRANSMISI BUDAYA DAN BIOLOGIS
Suburnya budaya indis pada awalnya didukung oleh kebiasaan hidup membujang parapejabat Belanda.Saatitu, ada larangan membawa istri dan mendatangkan perempuan Belanda ke Hindia Belanda.Hal tersebut mendorong lelaki Belanda menikahi penduduk setempat.Maka, terjadilah percampuran darah yang melahirkan anak – anak campuran, serta menumbuhkan budaya dan gaya hidup Belanda – Pribumi, atau gaya indis. Pada tahun 1870, Terusansuez dibuka, terusan tersebut memperpendek jarak antara negeri Belanda dengan Indonesia, sehingga kehadiran perempuan dari negeri Belanda makin banyak ke Indonesia. Kehadiran perempuan Eropa ke Indonesia pun memperluas percampuran budaya.



C. ENKULTURASI
“Suatu proses dimana individu belajar cara berpikir ,cara bertindak , dan merasa yang mencerminkan kebudayaan masyarakatnya”
Orang belanda memiliki kemampuan sebagai bangsa penguasa, ternyata bangunan rumah belanda terpengaruh juga oleh seni bangunan setempat yang disebut “Indo-Europeeschebouwkunst”. Ia menunjukkan sushistoris – arsitektural romaw ikuno yang tumbuh dan berkembang akibat bentuk seni budaya yunani. Hal semacam ini berlanjut dan terjadi pula di Hindia Belanda.Kedua pihak saling mengambil dan mengisi ;diawali dari kelompok pertama, yaitu bangsa belanda membawa pola peradaban belanda ke daerah koloninya di jawa.Dari parabirokrat pemerintah colonial, berkembanglah kebudayaan indis yang merupakan kebudayaan hasil jalinan erat antara dua budaya, yaitu budaya jawa dan belanda.Jalinan yang erat semacam ini digambarkan seolah – olah terdapat osmose dan pertukaran mental di antara orang jawa dan belanda, yaitu manusia jawa memasuki lingkungan budaya eropa dan sebaliknya.

D. KONFORMITAS
“Proses dimana seseorang mengubah perilakunya untuk menyesuaikan dengan aturan kelompok”

E. KEPATUHAN
“Salah satu bentu ketundukkan yang muncul ketika orang mengikuti suatu perintah langusng, biasanya dari seseorang dengan suatu posisi otoritas”
Politik liberal yang diberlakukan oleh pemerintah colonial pada 1870, ditambah dengan berkembangnya banyak perusahaan swasta di bidang perkebunan ,pelayaran , perbankan , dan perkeretaapian, memerlukan banyak tenagaterampil. Tenaga buruh kasar untuk mengerjakan irigasi, pembuatan jalan dan sebagainya diambil dari desa – desa di Jawa.
Pemerintah colonial mengharuskan pengusaha untuk bergaya hidup serta membangun gedung dan tempat tinggalnya dengan menggunakanciri – ciridan lambing yang berbeda dari rakyat yang dijajahnya.Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk menunjukkan kekuasaan dan kebesarannya.


F. Nilai
“gambaran yang dipegang oleh perseorangan atau secara kolektif oleh anggota kelompok yang mana dapat diinginkan dan mempengaruhi baik pemaknaan dan tujuan tindakan diantara pilihan – pilihan yang ada”
Orang eropa mengenal peletakkan batu pertama dan pemancanganb endera di atas kemuncak bangunan rumahnya yang sedang dibangun dengan diikuti pesta minum nir, tetapi hal semacam ini adalah peninggalan lama mereka.Kegiatan itu adalah “gema” saja dari adat lama yang sudah kabur pengertiannya. Bagi orang jawa, menaikkan mala (tiang) sebuah rumah tinggal dengan slametan, melekan (wungon, bedagang), meletakkan secarik kain tolak bala, sajen dan memilih haribaik, memiliki arti simbolik tertentu. Bagi orang jawa, meninggalkan adat kebiasaan seperti itu sangat bera karenaa danya paham kepercayaan terhadap kekuatan supranatural yang sulit dijelaskan.

G. EPISTEMOLOGI GENETIK
Dalam hal membangun rumah tempat tinggal dengan susunan tata ruangnya. Arti simbolik suatu bagian ruang rumah tinggal berhubungan erat dengan perilaku penghuninya.Pada suku jawa, misalnya, tidak dikenal ruang khusus bagi keluarga dengan pembedaan umur, jeniskelamin, generasi, family bahkan di antara anggota dan bukan anggota penghuni rumah.Maka, fungsi ruang tidak dipisahkan atau dibedakan dengan jelas.
Contoh lain yang sangat menarik adalah keselarasan system simbolik, khususnya gaya hidup. Betapa canggungnya orang pribumi jawa yang hidup secara tradisional di kampong, kemudian pindah untuk bertempat tinggal di dalam rumah gedung di dalam blok atau kompleks dengan suasana rumah bergaya barat modern. Kelengkapan rumah tangga yang serba asing, pembagian ruang – ruang di dalam rumah dengan fungsi yang khusus, fungsi ruang secara terpisah untuk terjamin privilege atau privacy penghuninya, semua itu menambah kecanggungan orang pribumi untuk tinggal di dalam rumah yang asingitu.
H. GAYA KOGNITIF
Anggapan bahwa rumah adalah model alam mikrokosmos menurut konsep pikiran jawa dans ebagainya, tidak ada pada alam pikiran eropa.



2.2.2. Kebudayaan Indis
A. Akulturasi
Sejak awal kedatangan bangsa Belanda telah terjadi kontak budaya yang kemudian menghasilkan perpaduan budaya. Kebudayaan campuran yang didukung oleh segolongan masyarakat Hindia Belanda itu disebut “Kebudayaan Indis”. Percampuran budaya tersebut meliputi berbagai unsure kebudayaan.
Dalam proses akulturasi dua kebudayaan tersebut, peran penguasa colonial di Hindia Belanda sangat menentukan. Sementara itu, bangsa Indonesia menerima nasib sebagai bangsa terjajah serta menyesuaikan diri sebagai aparat penguasa jajahan atau colonial. Hasil perpaduan menunjukan bahwa cirri-ciri Barat (Eropa) tampak lebih menonjol dan dominan.
Akulturasi yang diciptakan antara bangsa belanda dan masyarakat pribumi menghasilkan banyak kebudayaan baru yang masih awet sampai sekarang. Contohnya saja hasil karya budayanya, arsitektur rumah, peralatan rumah tangga, gaya hidup, serta tata kota merupakan hasil kebudayaan campur antara bangsa Belanda dan masyarakat pribumi yang masih bisa kita nikmati sampai sekarang. Bangunan-bangunan lama bergaya belanda-betawi itu, salah satu saksi mati adanya percampuran 2 kebudayaan tersebut. 
B. Kognisi Sosial dan Nilai-nilai (nilai keindahan)
Kognitif diartikan sebagai kegiatan untuk memperoleh, mengorganisasikan dan menggunakan pengetahuan. Sedangkan kebudayaan (culture) dalam arti luas merupakan kreativitas manusia (cipta, karsa, dan rasa) dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya. Manusia akan selalu melakukan kreativitasnya (dalam arti luas) untuk memenuhi kebutuhannya yang diseinvangkan dengan tantangan, ancaman, gangguan, dan hambatan dari lingkungan alam dan sosialnya. 
Dalam hal ini, wujud dan isi kebudayaan yang terjadi dalam proses akulturasi ada tiga macam, yaitu: system kultur yang berupa gagasan, ide, pikiran dan konsep. System kemasyarakatan yang berwujud kelakuan. Serta artifacts, yaitu benda-benda hasil karya manusia.
Hasil karya manusia pribumi itu sendiri berupa benda antara lain berupa ukiran-ukiran kayu untuk perabotan rumah tangga, arsitektur rumah, bangunan candi, yang kemudian dipadukan dengan pengetahuan dari bangsa eropa yang kemudian menghasilkan alat kelengkapan hidup seperti pakaian, dan alat – alat produksi yang bergaya indis. Dengan perpaduan tersebut terciptalah hasil karya gabungan yang memiliki nilai artistic yang tinggi.
Isi kebudayaan menurut para antropolog, ada tujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal. “IsI” kebudayaan Belanda yang datang memperkaya kebudayaan Indonesia dalam konteks tujuh unsur budaya universal itu ialah:
1. Bahasa (lisan maupun tertulis)
2. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia ( pakaian, rumah, senjata, alat transpotrasi, alat produksi, dll
3. Mata pencaharian dan system ekonomi (pertanian dan perternakan, system produksi, dll)
4. Sistem kemasyarakatan (organisasi politik, system kekerabatan, system hokum, system perkawinan, dll)
5. Kesenian (seni rupa, seni sastra, seni gerak, dll)
6. Ilmu pengetahuan
7. Religi
C. Sosialisasi Bahasa dan Keturunan (Biologis)
Sejak awal abad ke 18 sampai awal abad ke 20, bahasa melayu pasar mulai berbaur dengan bahasa Belanda. Pembauran ini berawal dari bahasa komunikasi yang digunakan oleh keluarga dalam lingkungan. “indische Landshuizen”, yang selanjutnya digunakan oleh golongan Indo-Belanda. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, proses perpaduan bahasa Belanda dan Jawa terjadi hanya pada sebagian masyarakat pendukung kebudayaan indis. Proses ini menimbulkan bahasa pijin atau bahasa campuran yang pada umumnya digunakan oleh orang-orang keturunan Belanda dengan ibu Jawa, oleh Cina keturunan, dan Timur asing. Bahasa hasil campuran orang-orang Belanda dengan orang Jawa ini lazim disebut bahasa Peotjoek
Kehadiran bangsa Belanda di Indonesia yang dilanjutkan dengan pencampuran darah dan budaya, memunculkan sekelompok masyarakat yang berdarah campuran. Mereka juga menggunakan bahasa poetjoek, yaitu bahasa yang digunakan oleh golongan orang-orang papa atau miskin dan orang-orang Belanda yang tidak diakui. Bahasa poetjoek juga digunakan oleh anak-anak Indo dan anak-anak dari golongan masyarakat terpandang, tapi tidak boleh digunakan dirumah karena mereka harus menggunakan bahasa Belanda sopan.
Anak-anak yang beribu Jawa dan berayah Belanda, biasanya lebih banyak menerima pengaruh budaya dari pihak Ibu. Hal itu disebabkan karena mereka besar dalam lingkungan orang Jawa, dan sehari-hari mereka mendengar bahasa Jawa serta menyaksikan tingkah laku orang Jawa. Mereka juga mendengar bahasa belanda dari ayahnya, namun mereka melafalkannya dengan menggunakan logat Jawa. 
D. Konformitas Dalam Menggunakan Karya Untuk Kelengkapan Hidup dan Perkembangan Moral
a. Rumah Tempat Tinggal
Bentuk bangunan tempat tinggal dengan ukuran yang besar dan luas, memiliki hiasan mewah, penataan halaman yang rapi, dan perabotan lengkap merupakan tolak ukur derajat kekayaan pemiliknya dan status sosial dalam masyarakat. Gaya hidup yang serba cukup mewah dapat menjadi lambang prestise dan status sosial yang tinggi.

b. Kelengkapan dan Peralatan Rumah Tangga
Kelengkapan rumahtangga, seperti meja, kursi, dan almari merupakan barang baru yang dikenal oleh suku Jawa setelah orang Eropa datang ke Nusantara. Setelah itu baru kemudian golongan bangsawam dan priyayi mulai menggunakan peralatan rumah tangga yang disebut meubelair.
Perabotan rumah tangga atau meubelair yang dibuat di Hindia Belanda berbahan dasar kayu jati berkualitas baik dengan ukiran motif bergaya Jawa atau bercampur dengan motif bergaya Eropa.

E. Konformitas, Compliance, Obedience Dalam Mata Pencaharian
Abad ke 18 dan 19 merupakan zaman keemasan bagi penjajahan dunia, demikian pula dengan VOC. VOC mencapai puncak kejayaannya setelah pemerintahan Belanda memperkokoh kekuasaannya di Nusantara. Sebelum pertengahan abad ke -19, politik colonial belanda berbeda dengan abad-abad sebelumnya yang lebih mengutamakan perdagangan,. Pada abad ke -19 ini, Belanda lebih mengutamakan penaklukan ilayah dari tangan bangsa pribumi serta merebut peragangan rempah-rempah dari sainganya.
Berbagai usaha perluasan penjajahan ini melibatkan banyak tenaga pribumi sehingga muncullah mata pencaharian baru bagi banyak orang jawa. Pekerjaan yang menggunakan tenaga Indo-Eropa atau pribumi antara lain sebgai prajurit sewaan,pejabat administrasi pemerintahan, dan tenaga kasar. 
Dari ulasan diatas, para pribumi melakukan pekerjaan dari mata pencahariannya itu tidak semata-mata denggan sukarela, tapi disana terdapat proses dan prilaku konformitas, konkompliance, dan obdiaence yaitu tujuannya agar tidak hanya dipandang “baik”, tapi sangat diperlukan untuk dapat berfungsi secara baik dalam kelompoknya, dan untuk dapat berhasil menjalin hubungan interpersonal bahkan untuk menikmati status yang lebih tinggi dan mendapat penilaian atau kesan positif, dan yang terpenting, mereka dapat menghidupi keluarganya karena menjadikan sesuatu yang dipatuhi, dan diikutinya itu sebagai mata pencahariannya dan penunjang kehidupannya.

F. PENGERTIAN DAN TUJUAN PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA
Manusia diciptakan tidak bersifat universal melainkan bersifat local, hidup bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dan memiliki budaya sendiri. 
Konsep Indis disini hanya terbatas pada ruang lingkup di daerah kebudayaan Jawa, yaitu tempat khusus bertemunya kebudayaan Eropa (Belanda ) dengan Jawa.
G. HUBUNGAN PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA DENGAN ILMU LAIN
Psikologi lintas budaya sama seperti dengan Psikologi budaya mencoba mempelajari bagaimana factor budaya dan etnis mempengaruhi perilaku manusia. 
Gaya hidup golongan masyarakat pendukung kebudayaan Indis menunjukkan perbedaan mencolok dengan kelompok-kelompok social lainnya., terutama dengan kelompok masyarakat tradisional Jawa. Tujuh unsure universal kebudayaan Indis, seperti halnya tujuh unsure universal yang dimiliki semua bangsa, mendapatkan bentuk dari akar budaya Belanda, ataupun budaya Pribumi Jawa. Kehidupan social dan ekonomi yang rata-rata lebih baik dibandingkan dengan kehidupan social masyarakat Pribumi pada umumnya, memungkinkan mereka memiliki rumah tinggal berukuran besar, yang bagus di dalam kompleks yang wilayahnya khusus pula.
H. Etnosentrisme dalam Psikologi Lintas Budaya
Kedudukan sebagai kelompok penguasa membuat masyarakat Indis berupaya menjaga prestise dan kedudukannya melalui berbagai cara agar dpat dibedakan dengan kelompok masyarakat lainnya. Kewibawaan, kekayaan dan kebesarannya ditampilkan agartampak lebih mewah dan agung dibandingkan kelompok-kelompok masyarakat lain. Hal demikian dimaksudkan untuk menjaga kelangsungan kekuasaa mereka di nusantara.
Kehidupan masyarakat Hindia Belanda umumya terpisah dalam kelompok-kelompok dengan batas-batas yang diatur dengan ketat. Batas-batas tersebut antaralain batas warna kulit, kelas social serta asal keturunan. Namun, ada pengecualian dalam lapangan ekonomi, ada kelas majikan yang berkulit putih dan pekerja atau budak yang berkulit berwarna. Selain itu dalam lapangan kerja seks, lazim para pejabat pemerintahan atau administrator perkebunan memiliki dan memelihara nyai ata gundik yang dapat diambil dari anak atau isteri kuli pekerja perkebunan atau dari kampong orang Pribumi.
I . Transmisi Budaya melalui enkulturasi dan sosialisasi
Enkulturasi adalah suatu proses dimana individu belajar cara berpikir, bertindak, dan merasa yang mencerminkan kebudayaan masyarakatnya. Sosialisasi menunjukkan proses pengintegrasian individu ke dalam sebuah kelompok social.
Kehadiran balatentara Jepang dalam Pernag Dunia II tahun 1942 menumbangkan lambing-lambang kebesaran budaya Indis dan mengubur kebudayaan dan gaya hidup boros serta mewah itu. Meskipun demikian, kebudayaan Indis tidak seluruhya lenyap. Dari pohon budaya Indis yang besar dan menjangkau peradaban yang luas di Indonesia itu, masih ada tunas-tunas yang hidup dan tetap berlanjut dan berkembang pada pada masa Republik Indonesia setelah runtuhnya pendudukan Jepang. Bahkan, di antara usur-unsur universal budaya Indis yang tetap menjadi unsure dominan sebagai kebudayaan nasional Indonesia, misalnya system pendidikan, system pemerintahan, perundang-undangan, dan sebagainya.Bahkan karya seni sesudah Indonesia merdeka, khususnya seni music dan seni drama tetap berlanjut. Penggunaan panggung proscenium, peralatan dan berbagai kelengkapan paggung yang modern seperti spotlight, pengeras suara, dekor dan sebagainya, melanjutkan kebiasaan masa Indis.
J. Perbedaan dan Persamaan antar budaya dalam hal-hal nilai
Satu kebiasaan yang umum dilakukan bangsa Pribumi Jawa pada pagi hari adalah pergi ke kali. Hal demikian sangat biasa termasuk untuk para perempuannya. Kebiasaan seperti iini yangmembuat jamban terletak di luar rumah. Sedangkan keluarga keturunan Belanda membuat tempat untuk mandi di tepi sungai.
Orang yang lahir di Belanda sebenarnya membenci kebiasaan mandi setiap hari. Hal demikian itu juga berlaku bagi bangsa Portugis, termasuk juga perempuannya, khususnya para nona.
K. Kontekstualisasi Kognitif
Pada upacara kematian untuk pejabat VOC atau pemerintah Hindia Belanda terdapat tokoh-tokoh yang dapat ikut “menangisi” jenazah,. Mereka menangis hingga iring-iringan pengantar jenazah sudah tidak tampa, jauh dari rumah duka. Acara meratap dan menangis tidak dikenal di Belanda. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh adat kebiasaan masyarakat Cina di Batavia sebagai tanda rasa berduka cita. Menangisi jenazah juga tidak tidak dikenal dalam ajaran Nasrani.
L.PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ANTAR BUDAYA DALAM HAL NILAI-NILAI
dalam disertasi F.A Soetjipto tentang kota-kota pantai disekitar selat madura terdapat informasi tentang sumber-sumber berita tertulis Pribumi antara lain berupa babat, kidung maupu serat, baik yang masih berupa manuskrip maupun yang sudah dengan jumlah cukup banyak. Karya-karya tulis ini banyak ditulis di daerah pantai (pesisir) dan pedalaman pulau Jawa. 
Manuskrip tersebut antara lain Babad Negeri Semarang, Babad Tuban, Babad Gresik, Babad Blambangan, Babad Kitho Pasoeroean, Babad Lumajang dan Babad Banten. Yang berupa cerita perjalanan anatar lain adalah perjalanan R.M Poerwolelono. Kitab-kitab tersebut memberitakan dan menerangkan keadaan berbagai aspek kehidupan suku Jawa, dan secara tidak langsung juga memberitakan tentang kota, rumah, adat, sejarah, dan sebagainya.
M. AKAR SEJARAH ALAM BENTUK PERSEPSI
Menggunakan sumber-sumber berupa babad, serat atau cerita perjalanan memerlukan ketelitian dan sikap kritis dalam memahaminya karena kitab-kitab tersebut memang tidak dimaksudkan sebagai karya sejarah, tetapi lebih bersifat karya sastra. Zoetmulder mengingatkan bahwa sikap subjektif dan fantasi si penulis mungkin sangat menonjol sehingga diperlukan sikap hati-hati dan kritis para pembaca.
N. PERSEPSI POLA DAN GAMBAR
Untuk meneliti kebenaran karya tuliis atau relief sebagai sumber berita sejarah, diperlukan kecermatan dan sikap hati-hati. Bagaimanapun juga, silang pendapat antara N.J>krom dan F.D.K. Bosch dalam menggunakan relief candi di Jawa sebagai sumber sejarah kehidupan sehari-hari masyarakatJawa perlu diperhatikan(sebagai contoh). Kedua pengamat dan peneliti sejarah kesenian Indonesia kuno tersebut mempermasalahkan nilai relief Candi Borobudur sebagai sumber sejarah. N.J.Krom menilai pentingnya relief candi sebagai sumber sejarah kehidupan masyarakat Jawa, sementara F.D.K. Bosch meragulkan kebenaran bentuk bangunan rumah pada relief bangunan tersebut benar-benar terdapat Jawa. T. Galestien sependapat dengan N.J.Korm dalam tulisannya berjudul Houtbouwop Oost Javansche Reliefs. Penulis sependapat bahwa relief candi merupakan hal yang berharga bagi penelusuran sejarah masyarakat Jawa. Pada kaki asli Candi Borobudur dengan relief Karmawibangga, terdapat tulisan-tulisan berhuruf dan bahasa Jawa kuno yang sangat berharga untuk sumber sejarah kehidupan masyarakat Jawa. Bukti ini menjadi petunjuk bahwa si pelaksana pembangunan Candi Borobudur adalah orang yang berbahasa dan menulis dengan dengan huruf atau orang Jawa.

O. TRANSMISI BUDAYA
Sejak 1960-an demi kepentingan ekonomi dan perdagangan, banyak bangunan rumah gaya Indis yang dirombak atau digusur. Penggusuran semacam itu antara lain diawali di Jakarta untuk kepentingan Asian Games, kemudian disusul proinsi-provinsi lain. Bangunan-bangunan Indis yang megah tersebut banyak yang dirombak dan digusur untuk dijadikan bangunan bank, toko swalayan dan sebagainya. Bahkan perombakan dan penggusuran dapat terjadi karena suatu bangunan dianggap tidak sesuai lagi dengan gaya zaman atau selera rasa keindahan bangsa Indonesia sekarang.
P. INTELIGENSI UMUM
Sayang sekali peninggalan seni lukis pada benda-benda keramik (misalnya lukisan pada jambangan dan piring) di Indonesia tidak dikenal. Bahkan sampai sekarang tidak ada tradisi melukiskan bangunan atau rumah pada karya keramik seniman dan pengrajin Indonesia, apalagi disertakan tulisan. Untunglah ingatan generasi tua bangsa Indonesia masih segar dan peninggalan bangunan rumah gaya Indis masih banyak tersebar di setiap kota di Pulau Jawa, walaupun pada akhir abad ke-20 nasibnya makin merana. Nama penghuni dan kegunaan masing-masing bangunan masih dapat dirunut kembalidari cerita para orang tua yang kini masih hidup atau dari berbagai karya sastera, namun jumlah generasi tua makin sedikit dan mereka semakin pikun.
KONTEKS SOSIAL
Pakaian para pekerja, apabila dibandingkan dengan pakaian tuan-tuan bangsa Eropa, tampak jelas berbeda. Bahkan pakaian antara orang-orang Eropa sendiri, sesuai dengan kedudukan kepangkatannya, tampak berbeda. 
C. Pola Pemukiman Masyarakat Indis di Kota, Provinsi dan Kabupaten di Jawa
Pengertian kota dan macam-macam jenis kota yang menarik ialah karya tulis Peter J.M Nas yang membahas tentang kota yang dibedakannya menjadi empat macam, yaitu :
1. Kota awal Indonesia
Kota awal Indonesia memiliki struktur yang jelas mencerminkan tatatanam kosmologis dengan pola-pola sosial budaya yang dibedakan dalam dua tipe, yaitu :
a. Kota-kota pedalaman dengan ciri-ciri tradisional dan religius.
b. Kota-kota pantai yang berdasarkan pada kegiatan perdangangan, misalnya kota Indis Semarang.
2. Kota Indis
3. Kota Kolonial
4. Kota Modern.

• Etnosentrisme dalam psikologi
Etnosentrisme secara formal didefinisikan sebagai pandangan bahwa kelompok atau budaya sendiri adalah pusat segalanya dan budaya lain akan selalu dibandingkan dan dinilai sesuai dengan standar budaya sendiri. Sejak awal pembentukannya sebagai kota, Batavia dijadikan pusat penguasa kolonial di Indonesia. Konfigurasi penduduk beserta wilayah pemukimannya sudah berkiblat pada bentuk kemajemukan. Pandangan bahwa kelompok atau budaya sendiri adalah pusat segalanya bisa dilihat dari pembaruan administrasi pemerintahan di Residensi Batavia telah melepaskan konsepsi pengelompokan etnis. Dasar pembagian ras dalam soal kependudukan dan susunan wilayah pemukiman tetap dipertahankan, bagaimanapun juga pengelompkan etnis dan pemisahan pemukiman berdasrkan ras dalam suatu kebijakan kolonial tidak sepnuhnya mampu membuat dikotomi mutlak.
• Awal perkembangan dan pengasuhan
Keterbukaan sebuah kota pusat pemerintahan dan perdagangan mengahruskan adanya perkembangan komunikasi dan teknologi pada abad ke-20 namun sampai abad ke-18 kota-kota di Jawa ridak mengalami perkembangan yang berarti. Kota tersebut tidak memiliki fungsi perdagangan umumnya menjadi pusat pemerintahan daerah.


• Enkulturasi dan sosialisai,Budaya dan Nilai-nilai
Berbagai peranan harus dipelajari oleh anak (individu anggota masyarakat) melalui proses sosialisasi; adapun mengenai kebudayaan perlu dipelajarinya melalui enkulturasi. Jika anak tidak mengalami sosialisasi dan/atau enkulturasi, maka ia tidak akan dapat berinteraksi sosial, ia tidak akan dapat melakukan tindakan sosial sesuai status dan peranannya serta kebudayaan masyarakatnya.
Enkulturasi adalah suatu proses dimana individu belajar cara berpikir, cara bertindak, dan merasa yang mencerminkan kebudayaan masyarakatnya. Herkovits menyatakan bahwa sosialisasi menunjukkan proses pengintegrasian individu ke dalam sebuah kelompok sosial, sedangkan enkulturasi adalah proses perolehan kompetensi budaya untuk hidup sebagai anggota kelompok. Dalam buku Kebudayaan Indis Kaarsten berupaya menggunakan percobaan dengan ilham bangunan pedesaan. Semuanya diciptakan Kaarsten dengan rekayasa desain seperti di negeri Belanda. Berlage menyebut kota Semarang adalah kota “ciptaan Kaarsten” karena Kaarsten memberi cap atau ciri bangunan di kota Semarang. Kaarsten juga membangun gedung Sobokerti, gedung pertunjukan prosenium ini adalah hasil salah satu percobaan untuk pemecahan masalah tentang gaya campuran Pribumi dengan Eropa yang disebutnya Indo-Europeesche Stjil. Tujuan utamanya agar dapat digunakan sebagai tempat pertunjukan wayang orang dan juga dapat digunakan untuk pertunjukan bentuk baru seni pentas gaya Barat dengan posisi para penonton di dalam ruangan dapat duduk dikursi, melihat kesatu arah panggung prosenium. Posisi penonton seperti ini sama dengan posisi penonton di gedung Pulzig, Berlin, Jerman sebagai banguna opera modern sebelum Perang Dunia II. Pertunjukan drama atau sandiwara dengan dialog bahasa Indonesia merupakan salah satu karya gaya Indis.
• Persepsi dan Pola gambar
Bentuk kota dan kabupaten digambarkan tidak jauh berbeda dengan lingkungan pedesaan sekitarnya. Rumah (dalem) bupati dan para pejabat tampak menonjol disekeliling alun-alun, diselingi dengan rumah kontrolir atau asisten residen dan perkantoran. Kelompok bangunan di kota lebih rapat satu sama lain dibandingkan dengan kelompok perumahan di pedesaan. Dibandingkan dengan kota-kota pantai kuno, kelompok perumahan di kota pusat pemerintahan lebih jarang. 


• Budaya dan Kesehatan
Pada 1925, Sociaal Technische Vereeniging mengadakan Volkshuisvesting Congres yang kedua. Laporan (verslag) kongres kedua mempunyai jangkauan tiga hal, yaitu : 
a. Rumah tinggal penduduk Pribumi
b. Perbaikan kampung-kampung jelek dan kumuh untuk jangka panjang
c. Pameran tentng perumhana penduduk.
Pengamatan tentang perbaikan pemukiman dan perumahan pribumi banyak kendalanya, khususnya pada bidang kesehatan. Yang paling memprihatinkan ialah berjangkitnya berbagai penyakit. Setelah 1910 terjadi kekurangan bahan makanan di Jawa sehingga diperlukan impor beras dari berbagai negeri di Asia. Salah satu kapal pembawa beras membawa sejenis tikus yang dengan cepat menularkan penyakit pes. Pada tahun yang sama tersebar penyakit pes dengan pesat di Malang dan menyebar lebih luas ke arah barat. Untuk memberantas penyakit, segera dibentuk dinas kesehatan rakyat.peraturan dan perbaikan rumah-rumah permukiman bangsa pribumi berhubungan erat dengan kepentingan kesehatan bangsa Belanda sendiri yang juga tinggal didalam kota yang sama.
• Self dalam konteks Sosial
Gaya hidup golongan masayarakat kebudayaan indis menunjukkan perbedaan dengan kelompok-kelompok sosial lainnya terutama dengan kelompok masyarakat. Seperti di Pasuruan, orang –orang Cina tinggal di Pecinaan, sementara Pribumi tinggal di kampung-kampung yang berpenduduk padat. Untuk setiap kelompok masyarakat didirikan sekolah. Sekolah orang Eropa terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya, sedangkan orang Cina di selatan kota. Sekolah untuk anak negeri didirikan di pusat kota, tidak jauh dari kampung-kampung. 
Ada empat golongan dan kebangsaan menurut Maclaine, yaitu :
1. Anak negeri atau kelompok Pribumi 
2. Orang yang disamakan dengan anak negeri
3. Orang Eropa
4. Orang yang disamakan dengan bangsa Eropa
Orang yang disamakan dengan anak negeri yaitu orang Cina, Arab, Koja dan Keling. Mereka dinamakan “orang asing di bawah angin”. Untuk tetap tinggal di Jawa dan Madura mereka harus mendapat izin dari gubernur dan jenderal. Untuk tinggal di luar tempat ini, mereka harus mendapat izin kepala pemerintah setempat. Menurut Staatsblad “orang di bawah angin” ini ditempatkan dikampung-kampung yang sudah ditentukan, yang diatur kepala pemerintah negeri. 
D. Upaya Mencukupi Kebutuhan Perumahan Kota
• Nilai-nilai dan motif kerja
Dari sudut ekonomi, pembangunan rumah dapat dimaksudkan untuk mencari untung. Pengusaha real estate sejak awal sudah menduga bahwa rumah berukuran kecil dibawah f 125 sebulan, tidak akan mampu disewa orang dan tidak akan menguntungkan. Khusus di Surabaya masyarakat ingin menjadi pengusaha real estate. Perusahaan membangun rumah berukuuran kecil untuk disewakan dan untuk menyimpan modal kekayaan yang menguntungkan. Dikalangan masyarakat pengusaha (asing dan Timur asing) ada yang bernafsu membuat rumah0rumah berukuran kecil atau sedang, tetapi dilengkapi perabotan serba lengkap untuk disewakan kepada orang Eropa. Pemrintah kolonial lebih tertarik untuk menarik uang subsidi dari gemeente. Subsidi digunakan untuk biaya pembuatan rumah-rumah kecil, khususnya untuk bangsa Pribumi dengan sewa paling rendah. 
Sesak dan padatnya kota Bandung berubah menjadi kota industri sehingga kolonial memberlakukan hal-hal berikut :
1. Membeli tanah yang siap dibangun (bowklaar) untuk mendirikan rumah kecil dengan cara mengangsur pembayarannya secara ringan dan dengan harga tanah serendah mungkin.
2. Mendirikan rumah-rumah sederhana untuk disewakan atau dikreditkan (sewa beli)
3. Memberikan bantuan bahan-bahan atau alat-alat rumah yang tinggal dipasang.
4. Menutup suatu daerah di dalam bagian kota tertntu dan hak eigendom, yaitu hak pemilikan pribadi sehingga harga tanah tempat itu tidak selalu naik.
5. Pada awal 1930, pemerintah Bandung membuat contoh mendirikan rumah-rumah kecil sebanyak-banyaknya dengan sewa serendah-rendahnya.




E. Penggunaan Unsur Seni Tradisional dalam Rumah Gaya Indis
• Enkulturasi 
Pada penggunaan unsur seni tradisional dalam rumah gaya Indis Ch. Meyll bertutur bahwa para arsitek Inggris di India berhasil dalam ciptaan-ciptaannyabdengan mendapat ilham dan mencontoh arsitektur tradisional Pribumi India yang ada disekeliling mereka. Conto-contoh dari arsitektur hasil katya bangsa yang dianggap lebih rendah atau tidak beradap. Hendaknya karya-karya yang merupakan ilham dari orang Jawa yang berbakat tersebut dapat dipakai untuk bahan ide membangun arsitektur modern di dunia Timur (Hindia Belanda)
Para reflektor menganjurkan tidak bersikap sentimen dan menolak menggunakan unsur-unsur budaya bangsa Pribumi, bila perlu mereka bisa mengawinkan dua unsur sebagai usaha baru dalam penciptaan. Orang-orang Eropa yang berbudaya dan tinggal di bumi Hindia Belanda perlu belajar dan meneliti hasil kkarya orang Jawa, arab, Cina dan India. Hal ini diperlukan untuk menghadapi adat kebiasaan pada masa lalu dan abad-abad yang akan datang.
• Ciri sifat antar budaya 
Di Hindia Belanda ada dua kelompok pendapat tentang penggunaan atau pemakaian seni budaya Jawa dalam bangunan. Kelompok pertama, mengutamakan pemindahan dari negeri ibu (Belanda) yang menghendaki seni bangunan ( nasional Belanda ) diberlakukan di daerah koloni, khususnya Jawa karena kemajuan teknik bangunan tidak mudah untuk diduga sebelumnya. Kelompok ini menyebutkan bahwaperalihan menuju ke seni Jawa masih sedikit. Oleh karena itu tidak ada gejolak yang berati dalam peralihan bentuk seni bangunan dan pandangan arsitek. Kelompok kedua, karena merasa dipisahkan oleh kenyataan adanya pertimbangan politik, mereka lebih mengharapkan adanya peralihan ke seni Jawa yang dapat menuju ke seni Indo-Eropa, yaitu apabila nantinya Hindia Belanda telah dapat berdiri sendiri.
Seni Jawa juga mempunyai karakteristik sendiri seperti halnya seni bangsa Barat atau negeri-negeri di Barat lainnya. Pentingnya faktor konstruksi bangunan, kesehatan dan ekonomi juga dihargai. Walaupun demikian, pada hakikatnya jiwa nasionalisme yang terdalam dimiliki bangsa Pribumi harus diutamakan.
BAB V
Ragam Hias Rumah Tinggal
Arsitektur rumah tinggal merupakan suatu bentuk kebudayaan. Marcus Vitruvius Pollio dengan karyanya yang berjudul De Architectura Libri Dacem adalah orang yang pertama kali mencetuskan konsep ini pada abad pertama sebelum masehi. Menurutnya, terdapat tiga unsur yang merupakan faktor dasar dalam arsitektur, yaitu: (a). Kenyamanan (convenience); (b). Kekuatan atau kekukuhan (strength); dan keindahan (beauty). Sedangkan salah satu elemen dalam dunia arsitektur adalah ornamen atau ragam hias. 
Abad ke-19 dikenal sebagai periode elektik, yaitu suatu periode gaya hidup yang menerapkan cara pandang serba praktis. Orang lebih mementingkan fungsi, sehingga ornament atau ragam hias tidak dianggap penting. Terlebih sejak abad ke-20 banyak benda tidak lagi memerlukan hiasan. Rumah dan interiornya tidak lagi dihias karena memang dianggap tidak perlu. 
Sementara itu, ada pendapat yang menyebutkan bahwa ornamen digunakan karena diilhami faktor emosi dan faktor teknik. Faktor emosi yaitu hasil cipta yang didapat dari kepercayaan, agama, dan magis atau faktor naturalistik. Sedangkan faktor teknik mencakup bahan-bahan baku dari ornamen dan proses pembuatannya. 
Berikut ini adalah lima indikasi seni bangunan dan seni lukis. Pertama, seni lukis modern adalah karya seni yang meninggalkan naturalisme yang terdapat pada seni plastid (pahat patung). Kedua, seni lukis modern bersifat bebas, terbuka, dan berlawanan dengan seni arsitektur. Ketiga, seni lukis modern penuh dengan warna-warna pada bidang yang bertolakbelakang dengan arsitektur yang tidak banyak menggunakan warna-warni seperti karya lukis. Keempat, seni lukis modern meliputi proses penciptaan bentuk plastis pada bidang datar, yang menghasilkan sesuatu yang kontras dengan permukaan bidang datar yang terbatas pada bangunan. Kelima, seni lukis modern member bentuk plastis pada bidang datar dengan pertimbangan yang tepat dan imbang.
B. Bentuk Atap dan Hiasan Kemuncak
Bangunan rumah jawa tradisional dan hiasannya dari masa awal abad ke-20 terdapat suatu keganjilan apabila dibandingkan dengan bagaimana masyarakat yang tinggal di pulau sekitarnya. Orang sumatera membangun rumah dari kayu dan orang Bali membangun rumahnya dari tanah liat yang dijemur atau dengan batu bata. Sedangkan pada umumnya bangunan pribumi di Jawa dibuat dari bahan yang murah, berdinding bamboo, beratap daun pohon palem atau rerumputan.
Bangunan rumah Jawa memiliki bermacam-macam bentuk atap. Nama atau gaya sesuatu bangunan rumah justru ditentukan menurut masing-masing bentuk atapnya, misalnya: rumah joglo, limas an, tajug, kampung dan sebagainya. Sedangkan bentuk atap bangunan rumah merupakan penentu nama sesuatu gaya bangunan rumah di Jawa dan Indonesia pada umumnya. Adapun di Eropa orang menggunakan bentuk tiang atau kepala tiang sebagai penentu ciri suatu bangunan.
Hiasan atap dan kemuncak bangunan rumah tradisional Jawa sangat sederhana. Demikian pula dengan hiasan atap dan kemuncak bangunan rumah gaya Indis pada awal abad ke-20 sebelum pengaruh seni Eropa melanda Pulau Jawa. Bersamaan dengan itu, corak bangunan rumah gaya Indis kembali lebih mendekati gaya Eropa. Hal itu tampak antara lain pada bentuk bangunan tertutup yang cocok bagi alam Eropa yang dingin. 
C. Hiasan dan Kemuncak Tadhah Angin dan Sisi Depan Rumah
Di Indonesia, khususnya di Jawa, hiasan di bagian atap rumah kurang mendapat perhatian, kecuali pada bangunan-bangunan peribadatan. Pada bangunan Eropa, hiasan kemuncak mendapat perhatian da mempunyai arti tersendiri, baik dari sudut keindahan, status sosial, maupun kepercayaan.
Hiasan kemuncak dengan sisi depan rumah gaya Indis di Jawa tidak terlalu banyak digunakan, baik pada bangunan di kota maupun rumah di pegunungan dan pedesaan. Semangat menghias rumah seperti halnya masyarakat Eropa tidak terdapat pada masyarakat Indis di Jawa. Hal demikian terjadi akibat tekanan ekonomi atau kemiskinan zaman Malaise akibat Perang Dunia I. Umumnya rumah gaya Indis beragam hias sederhana, kecuali rumah orang Cina yang kaya.
Pada awal abad ke-19, bangunan rumah kayu yang setengah batu yang memiliki sisi depan atap yang meruncing menjadi ciri umum bangunan rumah gaya Indis. Namun pada akhir abad ke-20, masyarakat Indis mulai banyak menggunakan bentuk tertutup menyerupai gaya Eropa.
Pada umumnya, sisi depan atap rumah gaya Indis berbentuk runcing menjorok ke depan (tuitgevel), suatu bentuk yang lazim digunakan untuk bangunan gudang (pakhuizen), yaitu menggunakan tadhah angin berbentuk segitiga (tjimpanon atau geveltoppen) bervariasi, dari hiasan sederhana berbentuk sumbu kemuncak nokspil hingga ornamen-ornamen yang bagus. Tympanon ini berbentuk segitiga, bagian atas disebut voorschot yang terdiri atas papan-papan kayu yang disusun vertikal.
Sejarah lambang-lambang yang dipahatkan pada papan lis tadhah angin (tympanon) dapat dibedakan menjadi tiga babakan waktu, yaitu:
1. Lambang dari masa Pra-Kristen, antara lain diwujudkan dengan gambar pohon hayat, kepala kuda, atau roda matahari.
2. Masa Kristen, berupa lambing gambar salib gambar hati(hart) , jangkar (angker),
3. Khusus lambing-lambang dari agama Roma katolik, yaitu berupa miskelk dan hostie.
Bagi bangunan rumah gaya Indis di Indonesia, lambang seperti tersebut di atas sudah kehilangan makna sebagai hiasan yang mengandung arti simbolik, tetapi berfungsi hanya sebagai hiasan belaka.
1. Macam-macam Hiasan Kemuncak dan Atap Rumah
a. Penunjuk arah Angin (Windwizer)
Penunjuk arah tiupan angin (windwijzer) atau windvaan, dalam bahasa Perancis disebut girovettes dan apabila berputar-putar disebut wire-wire.
b. Hiasan Puncak Atap (Nok Acroterie) dan cerobong asap Semu
Hiasan ini terbuat dari daun alang-alang sebagai prototype, kemudian dalam rumah gaya Indis dibentuk dengan bahan semen. Atap daun alang-alang (rumbia) digantikan dengan atap genteng. Demikian halnya cerobong asap yang menjulang tinggi di Negara Belanda, digantikan menjadi “cerobong asap semu”.
c. Hiasan Kemuncak Tampak-Depan (Geveltoppen)
Bentuk segitiga pada depan rumah disebut voorschot. Seringkali voorschot itu dihias dengan papan kayu yang dipasang vertical, berhiasan, yang digunakan sampai dengan abad ke-19. Ragam hias yang dipahatkan seringkali memiliki arti simbolik berupa huruf-huruf yang distilisasi sehingga merupakan motif ragam hias (runenschrift). Misalnya:
1. Lambang Manrune, dengan bentuk huruf M, terkadang dengan bentuk bunga tulip atau leli, mengandung arti simbolik kesuburan.
2. Perhiasan oelebord atau uilebord yang terdapat di rumah para petani Friesland berupa kayu berukir melukiskan dua ekor angsa bertolakbelakang yang bersandar pada makelaar. Pada rumah gaya Indis, bentuk angsa bertolakbelakang ada yang digantikan pohon hayat (kalpataru, kalpawreksa).
3. Hiasan berupa makelaar, yaitu papan kayu berukir, panjang sekitar dua meter ditempel secara vertikal.
d. Ragam Hias Pasir dari Material Logam
Ragam hias lain yang melengkapi bangunan rumah yang berbahan besi misalnya untuk: 
a. Pagar serambi (stoep)
b. Kerbil, yaitu penyangga atap emper pada bagian depan dan belakang rumah.
c. Penunjuk arah mata angin
d. Lampu halaman
e. Kursi kebun 
2. Ragam Hias pada Tubuh Bangunan
Ragam hias yang terdapat di bagian tubuh bangunan misalnya pada lubang-lubang angin (bovenlicht) yang terletak di atas pintu atau jendela. Hiasan yang berupa ukir krawanga (a’jour relief) ini lazimnya terbuat dari kayu, tetapi pada rumah-rumah mewah yang dihuni pembesar pemerintah kadang terbuat dari besi.

Lubang angin pada rumah gaya Indis di Jawa dihias sederhana saja, yaitu lukisan beberapa anak panah yang ujung-ujungnya menuju kearah pusat. Sedangkan pada bangunan besar seperti istana atau keraton raja-raja Jawa Yogyakarta dan Solo, batang bagian dalamnya dihias dengan gaya Ionia dan Korinthia. 

Penggunaan tiang gaya Doria, Ionia, Korinthia, dan Komposit disesuaikan dengan pandangan dan filsafat Yunani dan Romawi kuno. Bangsa Doria yang bersifat dan berjiwa militer serta menyukai kekuasaan menciptakan gaya Doria. Sehingga gaya Doria sangat cocok sebagai hiasan bangunan pemerintahan atau penguasa. Suku Ionia yang berwatak menyukai ketenangan, keindahan, dan keserasian menciptakan gaya Ionia. Sementara itu, para pedagang Korinthia, untuk menunjukkan kekayaan dan kemewahan, memesan batang tiang gaya Korinthia kepada para seniman bernama Kalimachos.



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pandangan bahwa kelompok atau budaya sendiri adalah pusat segalanya dan budaya lain Akan selalu dibandingkan dan dinilai sesuai dengan standar budaya sendiri” Semua artefak kebudayaan berupa monografi, kesusasteraan, kisahperjalanan, lukisan, foto,sketsa,artefakan seni bangunan indis menunjukkan kemampuan segolongan masyarakat Indonesia dalam mengambi unsur – unsur budaya asing tanpa meninggalkan budaya tradisionalnya.

3.2 Saran
Diharapkan mahasiswa mahasiswa mampu memahami dan mengerti tentang unsur-unsur kebudayaan Indis yang ada di Indonesia. Sehingga diharapkan bisa dituangkan dalam kehidupan sehari-hari untuk dapat saling bertoleransi satu sama lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar