Jumat, 02 November 2012

EXPERT SYSTEM DIAGNOSIS PENYAKIT PSIKOLOGIS

Tugas 6
Sistem Informasi Psikologi
Putri Uswatul Khasanah (4PA01/16509360)
BLUE PRINT  SISTEM PAKAR DIAGNOSIS PENYAKIT PSIKOLOGIS

Waw, rasanya aneh, anak psikologi diminta untuk membuat aplikasi expert system. Tapi ya apa boleh buat, tugas adalah tugas, jd harus diselesaikan sebisa dan sebaik mungkin. Lagipula, tidak ada salahnya kan kalau ada prinsip yang mengatakan, “manusia itu punya otak, dan harus bisa segala nya, semua bisa dipelajari”. Terinspirasi dari kata-kata bijak teman saya, “kita ga boleh mengotak-ngotak kan ilmu”, sehingga saya setuju dengan dosen softskill saya dengan kebaikan hatinya memberikan tugas ini, yatu menyatukan ilmu komputer dengan ilmu psikologi, jadi kita ilmu kita bisa bertambah dan semakin inovatif didunia psikologi nantinya. (ah uda ah sok tua nya..hha).

Kali ini saya akan mencoba membuat blue prin tentang aplikasi expert system untuk mendiagnosis gangguan kognitif usia lanjut. Tapi sebelum itu, saya akan menjelaskan apa itu gangguan kognitif pada lansia atau usia lanjut..

Dewasa akhir atau lanjut usia, biasanya merujuk pada tahap sikus kehidupan yang dimulai pada usia 65 tahun. Ahli gerotologi membagi lanjut usia menjadi dua kelompok, yaitu: young-old, berusia 65-74 tahun, dan old-old, berusia 75 tahun keatas. Masalah-masalah yang berhubungan dengan usia lanjut adalah masalah kesehatan, baik kesehatan fisik maupun mental, masalah sosial, masalah ekonomi, dan masalah psikologis. Dibanyak negara, penuaan dikaitkan dengan ketidakmampuan, defisit kognitif dan kesendirian.

Masalah pada usia lanjut meliputi:
a.    Ageism : diskriminasi terhadap seseorang, muda atau tua brdasarkan usia kronologis
b.    Gangguan tidur meningkat sering berjalannya usia: insomnia, sleep apnea  (berhenti bernafas)
c.    Medical treatment: pemberian berbagai macam obat/ polypharmacy

Bagian yang tidak dapat terlepas dari status kesehatan lansia, yaitu status fungsional, dengan pengertiannya adalah kemampuan seseorang dalam menjalankan aktifitas sehari-hari secara  sehat. Konsep ini terintegrasi dalam tiga domain utama, yaitu fungsi biologis, psikologis (kognitif dan afektif), dan sosial. Salah satu komponen psikologis dalam diri individu yaitu fungsi kognitif yang meliputi perhatian, persepsi, berfikir, pengetahuan, dan daya ingat.

Gangguan fungsi kognitif yang terjadi pada usia tua berupa gangguan orientasi, perhatian, konsentrasi, daya ingat, dan bahasa, serta fungsi intelektual. Serangkaian dari fungsi kognitif yang mendukung perencanaan, inisiasi, pemecahan masalah disebut fungsi eksekutif. Adanya gangguan kognitif akan mempengaruhi kemampuan lansia dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Meskipun mayoritas orang-orang lanjut usia tidak mengalami gangguan otak, masalah tersebut adalah yang paling sering membuat orang lanjut usia dirawat dirumah sakit dan memerlukan waktu rawat inap lebih lama dibanding berbagai kondisi lain yang dialami orang lanjut usia. Maka dari itu, kita akan membahas tipe utama gangguan otak.

Gangguan otak meliputi gangguan kesadaran, dan gangguan kognitif seperti dementia, delirium, dan alzheimer.

DEMENTIA
Dementia atau demensia adalah suatu sindroma klinik yang meliputi hilangnya intelektual dan ingatan atau memori sedemikian berat sehingga menyebabkan disfungsi hidup sehari-hari.

Dementia adalah suatu sindroma penurunan kemampuan intelektual progresif yang menyebabkan deteriorasi kognisi dan fungsional, sehingga mengakibatkan gangguan fungsi sosial, pekerjaan dan aktivitas sehari-hari (Asosiasi Alzheimer Indonesia, 2003).

Dementia sering disebut dengan kepikunan. Kesulitan dalam mengingat banyak hal, terutama berbagai peristiwa-peristiwa baru-baru ini merupakan simptom atau gejala utama dementia. Dementia terjadi secara perlahan selama bertahun-tahun, kelemahan kognitif dan behavioral yang hampir tidak terlihat dapa terdeteksi jauh sebelum orang yang bersangkutan menunjukan ketidakmampuan yang tampak jelas.

Ciri-ciri orang yang mengalami dementia adalah:

-    Orang dapat meninggalkan berbagai tugas tanpa diselesaikan karena lupa meneruskannya setelah terhenti karena suatu intrupsi. 
-    Orang tua lupa dengan nama anaknya, bahkan lupa  jika sudah memiliki seorang anak, ketika mereka mengunjunginya.
-    Lupa mandi dan cara berpakaian, dapat tersesat sekalipun dilingkungan yang tidak asing baginya.
-    Tidak dapat memahami berbagai situasi, sulit membuat rencana, dan mengambil keputusan.
-    Orang yang mengalami dementia mengabaikan standart mereka dan kehilangan kendali atas impuls” mereka, mereka dapat menggunakan bahasa yang kasar, menceritakan lelucon yang tidak pantas, mengutil, dan melakukan pendekatan seksual dengan orang asing.
-    Mengalami gangguan emosi, termasuk simtom-simtom depresi, afek datar, dan ledakan emosional secara berkala.
-    Mengalami delusi dan ilusi, menunjukan gangguan bicara, seperti pola bicara yang membingungkan
-    Kesulitan melakukan aktivitas motorik, seperti menggosok gigi, melambaikan tangan dn berpakaian.
-    Dapat kesulitan mengenali lingkungan sekitar dan menyebut nama benda-benda umum.

Gejala dementia antara lain:
1.    Kehilangan memori: pasien mungkin lupa jalan pulang kerumahnya ketika selesai berbelanja. Dia mungkin juga lupa dengan nama dan tempatnya saat itu. Dia juga dengan susah payah mengingat apa yang terjadi tadi pagi, dan selama sehari itu.
2.    Suasana hati yang berganti-ganti: pasien mungkin menjadi sangat moody karena bagian dari otaknya yang mengontrol emosi mengalami kerusakan. Mood juga bisa dipengaruhi rasa takut dan cemas berlebihan (pasien sangat mengkhawatirkan apa yang akan terjadi kepada dirinya)
3.    Kesulitan berkomunikasi: kesulitan untuk berbicara, membaca, bahkan menulis.
Penyebab demensia. Demensia umumnya diklasifikasikan menjadi empat tipe, salah satunya adalah penyakit Alzheimer.

PENYAKIT ALZHEIMER
Alzheimer adalah penyakit degeneratif progresif otak yang menyebabkan gangguan berpikir dan mengingat serius. Alzheimer adalah bentuk paling umum dari demensia (sindrom yang terdiri dari sejumlah gejala yang termasuk kehilangan memori, penilaian dan penalaran, dan perubahan suasana hati, perilaku dan kemampuan komunikasi).

Berikut adalah 10 gejala utama penyakit Alzheimer:
1.    Kehilangan memori bertahap. Adalah normal bila sesekali lupa dengan janji atau nama orang dan kemudian mengingatnya lagi. Penderita penyakit Alzheimer lebih sering lupa dengan hal-hal seperti itu dan tidak mengingatnya kembali, terutama bila baru terjadi. Masyarakat awam menyebutnya “pikun”.
2.    Kesulitan melaksanakan tugas rutin. Gagal melakukan secara tuntas hal-hal yang biasa dilakukan seperti menyiapkan masakan, mengelola anggaran rumah tangga atau melakukan ibadah.
3.    Gangguan penilaian. Kesulitan menilai situasi sehingga, misalnya, tidak mengakui masalah medis yang perlu perhatian atau mengenakan pakaian tebal di hari yang panas.
4.    Disorientasi ruang dan waktu. Sering lupa dengan waktu dan mudah tersesat. Ketika berjalan, penderita tidak tahu bagaimana sampai di sana dan caranya pulang ke rumah.
5.    Masalah dengan bahasa. Lupa dengan kata-kata sederhana atau kata-kata pengganti sehingga kalimatnya sulit dimengerti.
6.    Masalah dengan pemikiran abstrak. Memiliki kesulitan yang signifikan dengan tugas-tugas yang bersifat abstrak seperti menghitung pengembalian uang atau membuat rencana tindakan.
7.    Salah menaruh barang. Meletakkan sesuatu di tempat yang tidak semestinya seperti: baju di kulkas atau kacamata di cangkir kopi.
8.    Perubahan suasana hati dan perilaku. Memperlihatkan perubahan suasana hati yang bervariasi dari tenang menjadi menangis atau marah tanpa alasan yang jelas.
9.    Perubahan kepribadian. Mudah bingung, khawatir, curiga atau menarik diri dari pergaulan, bersikap apatis, atau bertindak di luar karakternya. Dua pertiga penderitanya mengalami gejala depresi dan sekitar 20% menunjukkan agresi, terutama pada pasien laki-laki. Mereka juga dapat mengalami halusinasi, delusi (keyakinan palsu) dan paranoid.
10.    Kehilangan inisiatif. Menjadi sangat pasif dan memerlukan isyarat dan dorongan untuk terlibat.

Alzheimer sering dikategorikan menurut tingkat keparahan dari gejalanya, seperti:
•    Ringan (tahap awal). Pada tahap ini, yang biasanya berlangsung 3-4 tahun, gejala ringan seperti kehilangan memori dan disorientasi membuat pasien membutuhkan pendampingan dan pengawasan.
•    Sedang (tahap tengah).Penyakit telah berkembang dan pasien mengalami lebih banyak kesulitan fungsi sehari-hari sehingga membutuhkan bantuan.
•    Parah atau lanjutan (tahap akhir). Dengan masalah komunikasi, gerakan dan inkontinensia berat, pasien membutuhkan perawatan khusus, seringkali harus tinggal di panti jompo.

Alzheimer berat ditandai dengan kehilangan daya ingat yang progresif sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, disorientasi tempat, orang dan waktu, serta mengalami masalah dalam perawatan diri , seperti lupa mengganti pakaian.Penderita penyakit itu biasanya juga mengalami perubahan tingkah laku seperti depresi, paranoia, atau agresif. Orang yang mempunyai riwayat keluarga Alzheimer mempunyai risiko mengalaminya dan risiko tersebut makin meningkat apabila kedua orang tua mengidap Alzheimer.
Pencegahan untuk penyakit Alzheimer

Mengonsumsi minyak ikan, berolahraga rutin dan mengisi teka teki silang adalah aktivitas yang disebut-sebut bermanfaat bagi otak. Tetapi menurut kajian terbaru, tidak ada bukti kuat bahwa semua itu dapat mencegah penyakit Alzheimer. Sebuah panel ahli yang terdiri dari para ahli menyimpulkan, suplemen, obat atau interaksi sosial juga belum terbukti dapat mencegah penyakit degenerasi otak tersebut. Kelompok ahli itu mengamati puluhan riset yang menunjukkan cara-cara untuk mencegah Alzheimer, penyakit yang merusak otak dan tidak dapat diobati. Tetapi belum menemukan satu pun bukti yang cukup kuat akan dampaknya bagi pencegahan.

DELIRIUM
Delirium adalah suatu sindrom dengan gejala pokok adanya gangguan kedasaran yang biasanya tampak dalam bentuk hambatan pada fungsi kognitif. Delirium mempunyai beberapa sebab. Semuanya mempunyai pola gejala serupa yang berhubungan dengan tingkat kesadaran dan kognitif pendeita. Penyebab utama berasal dari penyakit susunan saraf pusat, penyakit sistemik, intoksikasi, atau bahkan reaksi putus obat zat toksik.

Sedangkan beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit ini antara lain; usia, riwayat delirium dalam keluarga, ketergantungan alkohol, diabetes, kanker, gangguan panca indera, atau malnutrisi. Gambaran penyandang penyakit ini bisa bermacam-macam sangat tergantung individunya. Namun yang pasti bahwa pasien mengalamin penurunan daya ingat dan kognitifnya

Diagnosis delirium dibuat klinis. Gambaran khasnya adalah fluktuasi kognisi, biasanya memburuk pada malam hari dan membaik dengan relatif. Biasanya terdapat efek kognitif multipel termasuk kurangnya perhatian, daya ingat dan fungsi lebih tinggi yang terjadi akut beberapa jam sampai dengan hari. Gangguan persepsi termasuk halusinasi (khususnya visual) dan delusi (biasanya penganiayaan) dan kejadian dari proses pikiran yang abnormal adalah umum terjadi..

Jarang terjadi gangguan dari siklus tidur-bangun dengan gambaran awal insomnia dan mimpi buruk. Gambar klasik delirium termasuk kurang istirahat, rasa gembira, pembicaraan yang tertekan, tertawa, berteriak dan hiperaktifitas otonom (seperti diaforesis, takikardi dan cemas). Perilaku ini dapat mengganggu RS atau rumah perawatan dan suatu saat sulit diatasi.

Meskipun delirium adalah problem kognitif pasien, itu dapat menyebabkan keluhan somatik termasuk 'gait' dan gangguan keseimbangan dengan peningkatan jatuh, depresi, gangguan menelan (meningkatkan resiko aspirasi) dan inkotinensia urin serta alvi.

Penyebab Delirium adalah:
•    Baru-baru ini sempat menjalani prosedur bedah
•    Efek samping dari obat-obatan
•    Infeksi
•    Ketidakseimbangan elektrolit
•    Menderita Demensia
•    Menderita Penyakit Menular
•    Menderita Sindrom Penarikan Diri Dari Alkohol
•    Menelan racun
•    Mengkonsumsi narkoba seperti kokain, heroin dan ganja
•    Penggunaan Antidepresi
•    Penggunaan Antikonvulsan
•    Penggunaan Benzodiazepin
•    Penggunaan Narkotika
•    Stres

Tanda dan gejala Delirium yang mungkin timbul:
•    Gemetar
•    Halusinasi
•    Ingatan dan memori jangka pendek yang buruk
•    Kehilangan kendali atas kandung kemih
•    Kehilangan kendali buang air besar
•    Perubahan kepribadian
•    Perubahan pola tidur
•    Perubahan suasana hati
•    Sifat lekas marah
•    Tidak mampu membedakan waktu, arah, tempat dan orang-orang (disorientasi)
•    Tidak mampu mengungkapkan pikiran anda secara efektif
•    Tidak perhatian
•    Ucapan yang membingungkan

Sekarang, sampailah kita pada blue print expert system untuk mendiagnosis penyakit psikologis pada usia lanjut ini. Expert system yang akan saya buat berhubungan dengan 3 jenis gangguan fungsi kognitif pada lansia, yaitu dementia, delirium dan alzheimer.

Expert system ini digunakan oleh psikolog untuk mendiagnosis apakah pasien yang datang dan telah melakukan perkenalan awal tersebut mengalami gejala-gejala gangguan fungsi kognitif.
Berikut adalah blue print expert system diagnosis gangguan fungsi kognitif lansia.







Penjelasannya:

Pasien datang ke psikolog untuk menjalani pemeriksaan karena gangguan dan ketidaknyamanan yang telah dirasakannya dengan maksud agar mendapatkan tritmen atau pengobatan dari sang ahli.

Lalu kemudian, psikolog melakukan raport atau perkenalan awal dan prosedur-prosedur sebelum asesmen selanjutnya atau melakukan treatmen. Setelah psikolog mendapat gambaran tentang keluhan yang diceritakan pasien, mengetahui masalah klien ada hubungannya dengan gangguan kognitif diusia dewasa akhir atau lansia, psikolog mengambil keputusan untuk melakukan asesmen selanjutnya dengan menggunakan aplikasi expert system diagnosis gangguan kognitif lansia.

Psikolog membuka aplikasi expert system ini, dan melakukan pengambilan data.
Pengambilan data dilakukan dengan cara mengisi form yang ada, form ES ini berisi item-item yang merupakan pertanyaan dan pernyataan yang berhubungan dengan gejala-gejala gangguan fungsi kognitif pada lansia.

Setelah selesai mengisi seluruh form klien, komputer dan aplikasi akan mencocokan database sistem yang berisi ciri-ciri, kriteria dan gejala-gejala penyakit yang termasuk gangguan fungsi kognitif pada lansia,  yaitu dementia, alzheimer, dan delirium (yang telah dijelaskan dipembahasan awal)
Jika gejala yang dialami klien cocok dengan gejala dementia, maka sistem akan mengambil keputusan bahwa klien mengalami gangguan fungsi kognitif dementia. Jika tidak cocok, maka sistem akan mencocokan dengan gejala penyakit kedua, yaitu Alzheimer.

Jika cocok dengan gejala Alzheimer, maka sistem akan memutuskan bahwa klien mengalami Alzheimer, namun jika tidak match, sistem akan melanjutkan matching ke gejala lainnya, yaitu delirium.
Jika match dengan gejala delirium, sistem akan menyimpulkan bahwa klien mengalami Delirum.
Outputnya adalah berupa pernyataan tentang hasil gangguan Dementia, Alzheimer, atau Delirum yang dialami klien atau pasien.

Barulah setelah itu psikolog menginformasikan hasil dagnosis dan dapat memberikan tidak lanjut lainnya setelah pengambilan data ini.

Begitulah kiranya gambaran dari expert system yang berhubungan dengan  diagnosis penyakit psikologis yang dapat saya buat, mungkin masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam menjelaskannya..hhe,

Sumber:
Davison, G.C., Neale, J.M., Kring, A.M. (2010). Psikologi abnormal edisi ke 9. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada
http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/5FKS1KEDOKTERAN/0810211114/BAB%201.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22288/5/Chapter%20II.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27419/5/Chapter%20I.pdf
http://bidansmart.files.wordpress.com/2010/03/gangguan-kesadaran-dan-kognitif-pada-lansia-2.ppt
http://health.detik.com/read/2009/06/30/135712/1156449/770/delirium
http://www.persify.com/id/perspectives/medical-conditions-diseases/delirium-_-951000103373
http://www.geocities.ws/geriatriindonesia/
http://majalahkesehatan.com/alzheimer-penyakit-penuaan-yang-belum-ada-obatnya/
http://id.wikipedia.org/wiki/Alzheimer
http://pranaindonesia.wordpress.com/artikel-2/kenali-gejala-alzheimer/
http://id.wikipedia.org/wiki/Demensia
http://www.psychologymania.com/2012/09/pengertian-dementia.html
http://www.medicalnewstoday.com/articles/142214.php


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar