Selasa, 05 Oktober 2010

Altruisme

ALTRUISME

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kejadian yang mangharuskan kita membantu atau menolong seseorang dalam keadaan apapun. Biasanya peristiwa itu datang tanpa disengaja dan membutuhkan spontanitas.

Kita sering mendapati orang yang kesusahan di sekitar kita. Misalnya, ketika ada seorang ibu membawa barang yang banyak dan ingin naik ke sebuah angkutan umum, secara spontan ada orang yang membantunya menaikan barangnya, dan hanya bermaksud untuk membantu ibu tersebut. Contoh lainnya, ketika ada seorang tunanetra yang ingin menyeberang jalan, kita terdorong untuk membantunya, menuntun ke seberang jalan itu, dan niat kita di situ hanya karena ingin membantu.

Seseorang mempunyai pilihan untuk menolong atau mengabaikan orang lain yang sedang mengalami kesulitan. Mengapa kadang-kadang ada seseorang yang bersedia untuk menolong orang lain dan mengapa ada orang lain yang tidak bersedia memberikan pertolongan yang sangat dibutuhkan? Mari kita bahas bersama.

Tindakan sukarela yang dilakukan sesorang atau kelompok orang untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun (kecuali perasaan telah melakukan kebaikan) disebut Altruisme. Orang mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk rela menerobos kobaran api di rumah yang terbakar demi menyelamatkan sesorang yang terjebak di dalamnya, dan kemudian menghilang begitu saja, merupakan tindakan altruistik. Tindakan ini merupakan tindakan yang sangat positif.

Dengan menanamkan sifat ini dalam diri kita, kita bisa menjadi individu yang peka terhadap sekitarnya, dan memberikan kebaikan bagi orang lain. Kalau kita membantu orang lain dengan ikhlas dan tanpa pamrih, orang lain itu merasa sangat tertolong.,

Dalam kejadian sehari-hari, terutama di kota besar seperti Jakarta, di mana sikap mementingkan diri sendiri semakin nampak saja, sering kita temukan orang-orang yang tidak atau kurang memiliki sikap altruism sama sekali. Misalnya dalam angkutan umum yang penuh sesak, ada seorang ibu tua naik ke dalam bus dan terpaksa berdiri karena tidak ada tempat duduk lagi pada saat itu. Kalau beberapa tahun lalu, masih banyak orang yang akan spontan berdiri untuk memberikan tempat duduk bagi ibu tersebut, kini sikap tersebut semakin jarang dijumpai. Para penumpang lain yang mungkin lebih muda, lebih kuat, mungkin akan memilih untuk tetap duduk di tempatnya dengan tidak acuh atau berpura-pura tidur atau tidak melihat.  Namun masih ada, misalnya seorang mahasiswi (yang mungkin dalam hatinya masih berharap orang lain yang lebih pantas – misalnya bapak-bapak muda, tentara yang sehat dan tegap – untuk bersedia memberikan duduk) akhirnya memutuskan untuk menawarkan tempat duduknya (sebuah sikap altruism juga, meskipun kurang spontan).

Mungkin kita akan berfikir, mengapa mereka tidak punya kesadaran untuk menolong, padahal hanya berdiri saja dan memberikan tempat duduknya pada orang yang lebih membutuhkan, apalagi bagi  mareka yang akan turun di tempat yang tidak terlalu jauh, apa salahnya untuk berdiri beberapa menit. Memang mereka tidak bisa disalahkan juga, mungkin mereka memiliki alasan tertentu untuk tidak memberikan pertolongan, seperti kelelahan, membawa barang bawaaan yang banyak, jarak tujuan yang masih jauh. Tapi bilamana tidak ada alasan yang signifikan, patut kita pertanyakan kemana sifat altrusime itu pergi.

Adalah baik bila kita bisa menanamkan sifat suka menolong tanpa pamrih itu ke dalam diri kita, karena  kita adalah makhluk sosial yang juga membutuhkan orang lain. Suatu saat nanti kita pasti sangat membutuhkan bantuan, dan pada saat itu kita sangat mengharapkan ada orang yang membantu kita. Oleh karena itu, janganlah egois, apalagi di Negara kita ini yang konon sangat menjunjung tinggi sikap  menolong dan santun antar manusia. Mulailah dengan membantu orang lain, niscaya bantuan akan datang kepada kita juga..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar