Selasa, 04 Januari 2011

kerugian stimulasi otak tengah

Kerugian stimulasi otak tengah

Dari sekian banyak keuntungan dan manfaat dari penstimulasian otak tengah yang sedang marak sekarang ini, ternyata banyak pula kerugian yang ditemukan oleh para ahli.

Aktivasi otak tengah menjadi sebuah fenemena dalam dunia pendidikan. Fenomena ini mengundang keingintahuan, penasaran, sekaligus kegelisahan. Keingintahuan dipicu oleh testimoni para pelatih dan peserta. Konon ceritanya, setelah otak tengah diaktivasi, prestasi di sekolah melejit. Bahkan, sering pula dipertontonkan kemampuan tertentu. Misalnya: dapat membaca dengan mata tertutup (blindfold reading method). Dalam aksinya, anak yang telah diaktivasi tersebut dapat melakukan kegiatan tertentu pula. Sebutlah, bisa melewati penghalang dengan mata tertutup tanpa menabraknya. Bahkan dapat melihat isi suatu kotak tanpa membuka tutupnya. Masih banyak hal lain yang dapat mengundang decak kagum siapa pun. Kata para aktivisnya, ini adalah efek samping otak tengah yang telah diaktivasi.

Praktik aktivasi otak tengah di negeri ini menuai beragam respons. Ada yang cuek. Tak mau ambil pusing. Namun, ada pula yang bereaksi keras. Klaim-klaim penelitian ilmiah yang digemakan para aktivis, mengusik para dokter. Nurani mereka tergugah. Setelah diteliti, ternyata tidak ada satu pun rekomendasi jurnal ilmiah kedokteran internasional, tentang penelitian dimaksud. Padahal, katanya sudah 40 tahun. Bagaimana mungkin telah berusia 40 tahun, namun tidak ada referensi peneliti internasional? Maka, dr. Yossy Agustanti Indradjaja, SpKJ menyebut praktik ini tak ilmiah. “Aktivasi otak tengah tidak memiliki dasar ilmiah sama sekali,” terang dokter di Rumah Sakit Siloam dan Cikini Jakarta tersebut. Pemahaman aktivasi otak tengah dapat mengaktifkan sekaligus otak kiri dan kanan adalah pemahaman yang keliru. Alasannya mudah. Masing-masing otak berkembang dengan stimulus atau rangsangan yang berbeda. “Tidak bisa dengan cara instan,” tandasnya dengan nada tinggi.

Teori yang dibangun para aktivismidbrain mengatakan otak tengah adalah jembatan antara otak kanan dan otak kiri. Dalam tulisan-tulisan dan pelatihan selalu dikatakan demikian. Benarkah begitu? Rupanya, literatur kedokteran membantahnya. Lagi-lagi menurut dr. Venny, otak tengah berada di antara otak depan dan otak belakang. Sementara yang membagi dua otak kanan dan kiri namanya corpus callosum. Maka, dapatlah dipastikan, otak tengah tidak berfungsi menghubungkan otak kiri dan kanan seperti diajarkan selama ini. Menurut dr. Venny hal itu terjadi karena para aktivis bukanlah dokter yang memahami anatomi tubuh manusia
Kalau sekilas melihat atraksi extra ordinary atau di luar kebiasaan umum yang dilakukan anak-anak yang telah diaktivasi otak tengahnya, sepertinya janji tersebut masuk akal. Tetapi kalau kita pikirkan secara mendalam, bukan seperti itu kejeniusan yang kita harapkan pada anak-anak kita. 

Dalam tulisannya, Lely Setyawati Kurniawan, seorang Psikiater dari Denpasar, Bali, menyebut kondisi seperti yang dialami oleh anak-anak di atas sebagai awareness, yakni suatu kondisi mental penuh kewaspadaan. Kondisi awareness yang berlebihan akan membuat seseorang mengalami berbagai gangguan kejiwaan, berupa gejala yang ringan berupa Gangguan Cemas Menyeluruh, sampai tipe berat berupa Gangguan Paranoid.

Kondisi awareness tersebut muncul setelah otak tengah anak-anak tersebut diaktivasi dengan suatu cara tertentu, seperti memperdengarkan alunan musik klasik dan instrumentalia lainnya, gerakan-gerakan tubuh, menciptakan suasana tertentu, dan lain-lain, kemudian ditambah juga dengan program neuro-linguistik (NLP) yang disisipkan demi sebuah proses aktivasi yang nantinya mengarah pada suatu keadaan extra sensory perception (ESP).

Penelitian beberapa ahli sudah membuktikan secara ilmiah bahwa aktivasi otak tengah bisa memberikan dampak buruk bagi fungsi organ tubuh, seperti penelitian Musa A. Haxiu & Bryan K. Yamamoto (2002) membuat suatu penelitian otak tengah pada 24 ekor musang jantan. Hasilnya aktivasi otak tengah di daerah periaquaductal gray (PAG) ternyata justru mengakibatkan otot-otot polos pernafasan mengalami relaksasi, sehingga mengganggu pernafasan hewan-hewan tersebut.
Begitu juga dengan penelitian Peter D. Larsen, Sheng Zhong, dkk. (2001) ada beberapa hal yang berubah karena aktivasi otak tengah, misalnya tekanan arteri utama (mean arterial pressure), aliran darah di ginjal (renal blood flow), aliran darah di daerah paha (femoral blood flow), persarafan daerah bawah jantung (Inferior cardiac), persarafan simpatis dan denyut jantung akan makin meningkat, sebaliknya tekanan darah justru turun, aktivitas persarafan di daerah tulang belakang juga turun. Peningkatan tekanan arteri, aliran darah ginjal dan paha tersebut bisa mencapai 328%.

Ternyata masih banyak lagi kerugian yang tidak atau belum diketahui orang tua yang mendaftarkan anaknya untuk diaktivasi otak tengahnya, salah satunya adalah induksi lateralisasi pada aktifitasi otak tengah dapat mengakibatkan mental stres, serta berbagai stres lain yang akan memicu gangguan irama jantung dan kematian mendadak (sudden death). Dan saya juga pernah membaca artikel mengenai aktivasi otak tengah ini. Ternyata kemampuan otak tengah ini juga menggunakan tipuan-tipuan atau trik sulap yang menggunakan alat bantu. Diakui oleh seorang peserta aktivasi otak tengah ini, bahwa dia memanfaatkan alat bantu pertunjukan yang biasanya berupa selendang yang diikatkan di kepala untuk menutup matanya. Dia berkata, dia bisa melihat kartu, membaca, berjalan di atas papan yang lebar nya 8 cm, dan mengendarai sepeda dengan mata tertutup, yaitu dengan menggunakan celah bawah selendang yang digunakannya. Saat selendang diikatkan untuk menutup matanya, dia tidak menutup kelopak matanya, jadi dia bisa melihat apa yang ada didpannya mealu serat kain yang tembus pandang itu, atau melalui celah bawah dari selendang tersebut.

Trik lain yang dilakukannya agar trik kain tembusnya itu tidak terlalu mencolok yaitu dengan pura-pura mencium dan mendengar benda apa yang akan dicoba dilihat dengan mata tertutup itu. Kenapa mencium benda? Dikatakan kalau otak tengah memancarkan radar yang biasanya terletak di bawah hidung,. Dengan pernyataan ini, peserta memanfaatkan perilaku mencium itu, untuk memudahkannya melihat dari celah kain penutup matanya. Penonton yang hanya bisa melihat dari jauh atraksi ini, tidak pernah tahu kalau mata peserta tidak tertutup, dan apakah kain penutupnya benar-benar menutup matanya atau tidak, dan tidak tahu apakah peserta benar-benar menggunakan indra penciuman dan pendengarannya atau tidak. Yang ada di pkiran penonton adalah, orang-orang yang melakukan pertunjukan ini adalah orang-orang yang jenius. Dan masih banyak lagi kerugian dari stimulasi otak tengah tersebut yang sepertinya belum dapat kita ketahui..
Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar